rahman jawa


Teori Mekah
Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.
b. Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke
7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.
c. Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyak muslim di Iran.
d. Teori Cina
Teori Cina mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia—terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dam pesisir Cina bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.
Teori Cina ini bila dilihat dari beberapa sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat), dapat diterima. Bahkan menurut sejumlah sumber lokat tersebut ditulis bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam). Berdasarkan Sajarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja-raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah Cina, seperti “Cek Ko Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-cu”. Nama-nama seperti “Munggul” dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara Cina yang berbatasan dengan Rusia.
Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas Cina di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang pada abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan Cina, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang Cina. Semua teori di atas masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut.

  1. AGAMA / KEPERCAYAAN

v  Kepercayaan tahyul dan khurafat iaitu kepercayaan animisme, dinamisme, dan penyembahan nenek moyang atau hyang serta kepercayaan Hindu-Buddha digantikan dengan akidah tauhid.
v  Islam telah hapuskan kepercayaan sinkritime Hindu-Buddha-Hyang
v  Golongan yang mainkan peranan ialah ahli sufi dan para mubaligh
v  Agama Islam menjadi agama rasmi
v  Kekuatan pegangan agama telah timbulkan semangat jihad menentang penjajah.


  1. SOSIAL DAN BUDAYA

v  Budaya, cara hidup dan pemikiran turut mempengaruhi Alam Melayu. Kepercayaan kepada kakuasaan Allh telah beri setiap individu harga diri kerana tiada perbezaan antara sesame manusia di sisi Allah kecuali taqwa.
v  Pengaruh akidah, syariah dan akhlak memberi kesan dalam kehidupan.
v  Berlaku asimilasi antara ajaran Islam dan budaya setempat.
v  Islamisasi berlaku secara beransur-ansur tanpa pertentangan terbuka.
  1. EKONOMI
v  Berlandaskan hokum syarak – seperti konsep halal haram.
v  Kegiatan perdagangan diteruskan.
v  Segala tindak tanduk bukan sahaja dikawal oleh keikhlasan hati sahaja tetapi juga undang-undang negara seperti Risalah Hukum Kanun dan Undang-undang Laut Melaka.
  1. POLITIK DAN PERHUBUNGAN\ 
v  Pengislaman raja-raja membawa arus perubahan dalam sosio-politik.
v  Tertubuhnya kerajaan Melayu-Islam pertama di Alam Melayu Ta-Shih di Sumatera 674M. kemudian Perlak, Samudera-Pasai, Sribuza Islam, Champa, Melaka, Acheh, dll.
v  Sistem kesultanan berbeza dengan sebelumnya sistem pemerintahan beraja – konsep dewaraja dihapuskan. Islam telah berjaya memanusiakan raja-raja yang dianggap dewa sebelum ini.
v  Begitu juga Islam telah membawa transformasi nilai dan etika pemerintahan kepada raja-raja contohnya terdapat karya ketatanegaraan yang menunjukkan dengan jelas pemikiran Islam dalam politik Islam di Alam Melayu seperti kitab Tajul Salatin karya Bukhari al-Jauhari. Kitab ini memperincikan tatasusila serta kod etika yang harus dipakai raja-raja seperti harus bersifat adil, amanah, dsb.
v  Watak dan peribadi sultan pun berubah kepada seorang yang cintakan ilmu serta mendampingi ulama seperti Sultan Malik Zahir di Pasai, Sultan Mansur Shah di Melaka, Siltan Mahkota alam di Acheh, dll.
v  Kerajaan-kerajaan Melayu Islam ini memainkan peranan penting sebagai pusat tamadun.
v  Sistem pemerintahan kerajaan Uthmaniyah di Turki menjadi contoh dalam pentadbiran iaitu:
·         Sultan sebagai ketua negara.
·         Mufti atau alim ulama sebagai penasihat.

v  Asimilasi undang-undang tempatan dengan undang-undang Islam.
v  Wujud undang-undang Islam bertulis menggantikan undang-undang Melayu tempatan (Malay Local Law) seperti di Melaka terdapat:
·         Hukum Kanun Melaka – undang-undang negeri
·         Undang-undang Melaka – undang-undang negeri
·         Undang-undang Laut Melaka – undang-undang yang berhubung dengan peraturan laut serta jenayah perdagangan.

v  Di Acheh – Kanun Mahkota Alam
v  Mufti dan kadi bertindak sebagai penasihat sultan menggantikan para sami sebelumnya menjadi penasihat Raja Hindu-Buddha.

Teori Mekah
Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.
b. Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke
7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.
c. Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyak muslim di Iran.
d. Teori Cina
Teori Cina mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia—terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dam pesisir Cina bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.
Teori Cina ini bila dilihat dari beberapa sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat), dapat diterima. Bahkan menurut sejumlah sumber lokat tersebut ditulis bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam). Berdasarkan Sajarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja-raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah Cina, seperti “Cek Ko Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-cu”. Nama-nama seperti “Munggul” dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara Cina yang berbatasan dengan Rusia.
Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas Cina di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang pada abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan Cina, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang Cina. Semua teori di atas masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut.

  1. AGAMA / KEPERCAYAAN

v  Kepercayaan tahyul dan khurafat iaitu kepercayaan animisme, dinamisme, dan penyembahan nenek moyang atau hyang serta kepercayaan Hindu-Buddha digantikan dengan akidah tauhid.
v  Islam telah hapuskan kepercayaan sinkritime Hindu-Buddha-Hyang
v  Golongan yang mainkan peranan ialah ahli sufi dan para mubaligh
v  Agama Islam menjadi agama rasmi
v  Kekuatan pegangan agama telah timbulkan semangat jihad menentang penjajah.


  1. SOSIAL DAN BUDAYA

v  Budaya, cara hidup dan pemikiran turut mempengaruhi Alam Melayu. Kepercayaan kepada kakuasaan Allh telah beri setiap individu harga diri kerana tiada perbezaan antara sesame manusia di sisi Allah kecuali taqwa.
v  Pengaruh akidah, syariah dan akhlak memberi kesan dalam kehidupan.
v  Berlaku asimilasi antara ajaran Islam dan budaya setempat.
v  Islamisasi berlaku secara beransur-ansur tanpa pertentangan terbuka.
  1. EKONOMI
v  Berlandaskan hokum syarak – seperti konsep halal haram.
v  Kegiatan perdagangan diteruskan.
v  Segala tindak tanduk bukan sahaja dikawal oleh keikhlasan hati sahaja tetapi juga undang-undang negara seperti Risalah Hukum Kanun dan Undang-undang Laut Melaka.
  1. POLITIK DAN PERHUBUNGAN\ 
v  Pengislaman raja-raja membawa arus perubahan dalam sosio-politik.
v  Tertubuhnya kerajaan Melayu-Islam pertama di Alam Melayu Ta-Shih di Sumatera 674M. kemudian Perlak, Samudera-Pasai, Sribuza Islam, Champa, Melaka, Acheh, dll.
v  Sistem kesultanan berbeza dengan sebelumnya sistem pemerintahan beraja – konsep dewaraja dihapuskan. Islam telah berjaya memanusiakan raja-raja yang dianggap dewa sebelum ini.
v  Begitu juga Islam telah membawa transformasi nilai dan etika pemerintahan kepada raja-raja contohnya terdapat karya ketatanegaraan yang menunjukkan dengan jelas pemikiran Islam dalam politik Islam di Alam Melayu seperti kitab Tajul Salatin karya Bukhari al-Jauhari. Kitab ini memperincikan tatasusila serta kod etika yang harus dipakai raja-raja seperti harus bersifat adil, amanah, dsb.
v  Watak dan peribadi sultan pun berubah kepada seorang yang cintakan ilmu serta mendampingi ulama seperti Sultan Malik Zahir di Pasai, Sultan Mansur Shah di Melaka, Siltan Mahkota alam di Acheh, dll.
v  Kerajaan-kerajaan Melayu Islam ini memainkan peranan penting sebagai pusat tamadun.
v  Sistem pemerintahan kerajaan Uthmaniyah di Turki menjadi contoh dalam pentadbiran iaitu:
·         Sultan sebagai ketua negara.
·         Mufti atau alim ulama sebagai penasihat.

v  Asimilasi undang-undang tempatan dengan undang-undang Islam.
v  Wujud undang-undang Islam bertulis menggantikan undang-undang Melayu tempatan (Malay Local Law) seperti di Melaka terdapat:
·         Hukum Kanun Melaka – undang-undang negeri
·         Undang-undang Melaka – undang-undang negeri
·         Undang-undang Laut Melaka – undang-undang yang berhubung dengan peraturan laut serta jenayah perdagangan.

v  Di Acheh – Kanun Mahkota Alam
v  Mufti dan kadi bertindak sebagai penasihat sultan menggantikan para sami sebelumnya menjadi penasihat Raja Hindu-Buddha.

Teori Mekah
Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.
b. Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke
7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.
c. Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyak muslim di Iran.
d. Teori Cina
Teori Cina mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia—terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dam pesisir Cina bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.
Teori Cina ini bila dilihat dari beberapa sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat), dapat diterima. Bahkan menurut sejumlah sumber lokat tersebut ditulis bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam). Berdasarkan Sajarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja-raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah Cina, seperti “Cek Ko Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-cu”. Nama-nama seperti “Munggul” dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara Cina yang berbatasan dengan Rusia.
Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas Cina di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang pada abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan Cina, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang Cina. Semua teori di atas masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut.

  1. AGAMA / KEPERCAYAAN

v  Kepercayaan tahyul dan khurafat iaitu kepercayaan animisme, dinamisme, dan penyembahan nenek moyang atau hyang serta kepercayaan Hindu-Buddha digantikan dengan akidah tauhid.
v  Islam telah hapuskan kepercayaan sinkritime Hindu-Buddha-Hyang
v  Golongan yang mainkan peranan ialah ahli sufi dan para mubaligh
v  Agama Islam menjadi agama rasmi
v  Kekuatan pegangan agama telah timbulkan semangat jihad menentang penjajah.


  1. SOSIAL DAN BUDAYA

v  Budaya, cara hidup dan pemikiran turut mempengaruhi Alam Melayu. Kepercayaan kepada kakuasaan Allh telah beri setiap individu harga diri kerana tiada perbezaan antara sesame manusia di sisi Allah kecuali taqwa.
v  Pengaruh akidah, syariah dan akhlak memberi kesan dalam kehidupan.
v  Berlaku asimilasi antara ajaran Islam dan budaya setempat.
v  Islamisasi berlaku secara beransur-ansur tanpa pertentangan terbuka.
  1. EKONOMI
v  Berlandaskan hokum syarak – seperti konsep halal haram.
v  Kegiatan perdagangan diteruskan.
v  Segala tindak tanduk bukan sahaja dikawal oleh keikhlasan hati sahaja tetapi juga undang-undang negara seperti Risalah Hukum Kanun dan Undang-undang Laut Melaka.
  1. POLITIK DAN PERHUBUNGAN\ 
v  Pengislaman raja-raja membawa arus perubahan dalam sosio-politik.
v  Tertubuhnya kerajaan Melayu-Islam pertama di Alam Melayu Ta-Shih di Sumatera 674M. kemudian Perlak, Samudera-Pasai, Sribuza Islam, Champa, Melaka, Acheh, dll.
v  Sistem kesultanan berbeza dengan sebelumnya sistem pemerintahan beraja – konsep dewaraja dihapuskan. Islam telah berjaya memanusiakan raja-raja yang dianggap dewa sebelum ini.
v  Begitu juga Islam telah membawa transformasi nilai dan etika pemerintahan kepada raja-raja contohnya terdapat karya ketatanegaraan yang menunjukkan dengan jelas pemikiran Islam dalam politik Islam di Alam Melayu seperti kitab Tajul Salatin karya Bukhari al-Jauhari. Kitab ini memperincikan tatasusila serta kod etika yang harus dipakai raja-raja seperti harus bersifat adil, amanah, dsb.
v  Watak dan peribadi sultan pun berubah kepada seorang yang cintakan ilmu serta mendampingi ulama seperti Sultan Malik Zahir di Pasai, Sultan Mansur Shah di Melaka, Siltan Mahkota alam di Acheh, dll.
v  Kerajaan-kerajaan Melayu Islam ini memainkan peranan penting sebagai pusat tamadun.
v  Sistem pemerintahan kerajaan Uthmaniyah di Turki menjadi contoh dalam pentadbiran iaitu:
·         Sultan sebagai ketua negara.
·         Mufti atau alim ulama sebagai penasihat.

v  Asimilasi undang-undang tempatan dengan undang-undang Islam.
v  Wujud undang-undang Islam bertulis menggantikan undang-undang Melayu tempatan (Malay Local Law) seperti di Melaka terdapat:
·         Hukum Kanun Melaka – undang-undang negeri
·         Undang-undang Melaka – undang-undang negeri
·         Undang-undang Laut Melaka – undang-undang yang berhubung dengan peraturan laut serta jenayah perdagangan.

v  Di Acheh – Kanun Mahkota Alam
v  Mufti dan kadi bertindak sebagai penasihat sultan menggantikan para sami sebelumnya menjadi penasihat Raja Hindu-Buddha.

Asal Usul Bangsa Melayu
Asal usul bangsa melayu merupakan sesuatu yang sukar di tentukan,walaupun terdapat beberapa kajian dilakukan untuk menjelaskan pekara ini,tetapi kata sepakat antara sarjana belum dicapai.secara amnya terdapat 2 teori mengenai asal usul bangsa melayu iaitu (a) bangsa Melayu berasal dari Yunnan (Teori Yunnan ), dan (b) bangsa Melayu berasal dari Nusantara (Teori Nusantara). Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahawa orang minangkabau itu berasal daripada pengikut Nabi Nuh,iaitu bangsa Ark yang mendarat di muara sungai Jambi dan Palembang,semasa banjir besar berlaku di bumi.tetapi pendapat ini masih belum mendapat bukti yang kukuh.

Teori ini disokong oleh beberapa sarjana R.H.Geldern,J.H.C Kern,J.R Foster,J.R Logen,Slametmuljana dan juga Asmah Haji Omar.secara keseluruhannya, alasan-alasan yang menyokong teori ini adalah seperi (a) Kapak Tua yang mirip kepada Kapak Tua di Asia Tengah di Kepulauan Melayu .perkara ini menunjukkan adanya migrasi penduduk dari Asia Tengah ke Kepulauan Melayu; (b) Adat resam bangsa Melayu mirip kepada suku Naga di daerah Assam (berhampiran dengan sempadan India dengan Myanmar); (c) Bahasa Melayu adalah serumpun dengan bahasa di kemboja. Lebih lanjut lagi,penduduk di Kemboja mungkin berasal dari dataran Yunnan dengan menyusuri sungai Mekong.perhubungan bangsa Melayu dengan bangsa Kemboja sekaligus menandakan pertaliannya dengan dataran Yunnan. Teori ini merupakan teori yang popular yakni diterima umum,contohnya dalam buku Teks Pengajian Malaysia adapun menyatakan ”nenek moyang” orang melayu itu berasal dari Yunnan

Berdasarkan teori ini.dikatakan orang melayu datang dari Yunnan ke Kepulauan Melayu menerusi tiga gelombang yang utama,iaitu orang Negrito,Melayu Proto,dan juga Melayu Deutro.

Gelombang pertama dikenali sebagai Melayu-Proto yang berlaku kira-kira 2500 tahun Sebelum Masehi,Kira-kira dalam tahun 1500 tahun Sebelum Masehi, datang pula gelombang kedua yang dikenali sebagai Melayu-Deutro. Mereka mendiami daerah-daerah yang subur di pinggir pantai dan tanah lembah Asia Tenggara. Kehadiran mereka ini menyebabkan orang-orang Melayu-Proto seperti orang-orangJakun, Mahmeri, Jahut, Temuan, Biduanda dan beberapa kelompok kecil yang lain berpindah ke kawasan pedalaman. Justeru itu, Melayu-Deutro ini merupakan masyarakat Melayu yang ada pada masa kini.

Orang Negrito
Orang Neggrito merupakan penduduk paling awal di Kepulauan Melayu,dipercayai berasal daripada golongan Austronesia di Yunnanmereka dikatakan berada di sini sejak 1000 SM berdasarkan penerokaan arkeologi di Gua Cha,Kelantan.daripada orang Negrito telah diperturunkan orang semang yang mempunyai ciri-ciri fizikal berkulit gelap,berambut kerinting,bermata bundar,berhidung lebar,berbibir penuh,serta saiz badan yang pendek,keturunannya orang Asli di semenanjung Malaysia,Dayak di Sarawak dan Batak di Sumatera

Menurut pendapat asmah haji omar sebelum perpindahan penduduk dari asia berlaku,kepuluan melayu (Nusantara) ini telah ada penghuninya yang kemudian di namai sebagai penduduk asli,ada ahli sejarah yang mengatakan bahawa mereka yang tinggal di semenanjung Tanah Melayu ini dikenali sebagai orang Negrito.orang Negrito ini diperkirakan telah ada sejak tahun 8000 SM (sebelum masihi ).mereka tinggal di dalam gua dan mata pencarian mereka memburu binatang.Alat perburuan mereka diperbuat daripada batu dan zaman ini di sebut sebagai zaman Batu pertengahan.Di kedah sebagai contoh,pada tahun 5000 SM,iaitu pada zaman paleolit dan mesolit,telah didiami oleh orang Austronesia yang menurunkan orang Negerito,Sakai,Semai dan sebagainya


Melayu Proto
Asal yang kedua ialah Melayu-Proto,Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahawa orang melayu ini berasal dari Asia Tengah,perpindahan tersebut (yang pertama) diperkirakan pada tahun 2500 SM,mereka ini kemudian dinamai sebagai Melayu-Proto,peradaban orang melayu-proto ini lebih maju sedikit daripada orang Negrito. Orang Melayu-proto telah pandai membuat alat bercucuk tanam,membuat barang pecah belah, dan alat perhiasan kehidupan mereka berpindah randah.zaman mereka ini dinamai Neolitik atau Zaman Batu Baru.

Terdapat satu lagi persamaan antara Melayu Proto dimana dikenali sebagai Melayu Negosiddek dimana kebanyakan terdapat disebuah pulau yang di kenali sebagai Pinang,Melayu Negosiddek ini mahir dalam bidang lautan tetapi tidak pandai berenang

Melayu Deutro
Kumpulan ketiga dikenali sebagai Melayu Deutro.perpindahan penduduk yang kedua dari Asia yang dikatakan dari daerah Yunan diperkirakan berlaku pada tahun 1500 SM.mereka dinamai Melayu-Deutro dan telah mempunyai peradaban yang lebih maju daripada melayu proto.Melayu-Deutro telah mengenal kebudayaan logam.mereka telah menggunakan alat perburuan dan pertanian daripada besi.Zaman mereka ini dinamai Zaman Logam,mereka hidup di tepi pantai dan menyebar hampir di seluruh kepulauan melayu ini.

Kedatangan orang melayu-Deutro ini dengan sendirinya telah mengakibatkan perpindahan orang melayu-proto ke pendalaman sesuai dengan cara hidup mereka yang berpindah randah.berlainan dengan melayu-proto,melayu deutro ini hidup secara berkelompok dan tinggal menetap di sesuatu tempat.mereka yang tinggal tepi pantai hidup sebagai nelayan dan sebahagian lagi mendirikan kampung berhampiran sungai dan lembah yang subur.hidup mereka sebagai petani dan memburu binatang.orang melayu deutro ini telah pandai bermasyarakat,mereka biasanya memilih seorang ketua yang tugasnya sebagai ketua pemerintahan dan sekaligus ketua agama,Agama yang mereka anuti itu ialah animisme.

Keturunannya orang Melayu di MalaysiaDikatakan lebih bijak dan dan mahir daripada Melayu Proto.Bijak dalam bidang astronomi, pelayaran dan bercucuk tanam.Bilangan lebih banyak daripada Melayu Proto.Menduduki kawasan pantai dan lembah di Asia Tenggara.Orang ini, kumpulan pertama dan kedua, dikenali sebagai Austronesia. Bahasa-bahasa yang terdapat di Nusantara sekarang berpunca daripada bahasa Austronesia ini


Teori Nusantara
Teori ini disoking oleh sarjana-sarjana seperti J.Crawfurd,K.Himly,Sutan Takdir Alisjahbana dan juga Gorys Keraf.Teori ini adalah disokong dengan alasan-alasan seperti di bawah

1) Bangsa Melayu dan Bangsa Kawa mempunyai tamadun yang tinggi
Pada abab ke 19,Taraf ini hanya dapat dicapai setelah perkembangan budaya yang lama.pekara ini menunjukan orang Melayu tidak berasal dari mana-mana,tetapi berasa dan berkembang di Nusantara

2) K.Himly tidak bersetuju dengan pendapat yang mengatakan bahawa
Bahasa Melayu serumpun dengan Bahasa Champa.baginya
Persamaan yang berlaku di kedua-dua bahasa adalah satu fenomena ” ambilan ”

3) Manusia Kuno Homo Soloinensis dan Homo Wajakensis terdapat di pulau jawa.penemuan manusia kuno ini di pulau jawa menunjukkan adanya kemungkinan orang melayu itu keturunan daripada manusia kuno tersebut yakni berasal daripada jawa dan mewujudkan tamadun bersendirian

4) Bahasa di Nusantara (Bahasa Austrinesia ) mempunyai perbezaan yang ketara dengan bahasa di Asia Tengah (Bahasa Indo-Eropah )

Sejarah Asal Usul Bangsa Melayu
Dalam buku Sejarah Melayu disebut bahwa Melayu adalah nama sungai di Sumatera Selatan yang mengalir disekitar bukit Si Guntang dekat Palembang. Si Guntang merupakan tempat pemunculan pertama tiga orang raja yang datang ke alam Melayu. Mereka adalah asal dari keturunan raja-raja Melayu di Palembang (Singapura, Malaka dan Johor), Minangkabau dan Tanjung Pura.

Sejarah Melayu (Malay Annals) merupakan karya tulis yang paling penting dalam bahasa Melayu yang merupakan sumber yang otentik untuk informasi mengenai ke-Melayu-an. Disusun sekitar tahun 1612 tetapi didasarkan catatan-catatan yang lebih tua. Disebut juga bahwa anggota kerajaan Malaka menyebut diri mereka keturunan Melayu dari daerah Palembang. Seperti keluarga raja-raja di Negeri Sembilan yaitu: Yang Dipertuan Ali Alamsyah yang dianggap keturunan langsung dari Raja Minangkabau terakhir. Pada waktu itu sebutan Melayu merujuk pada keturunan sekelompok kecil orang Sumatera pilihan. Seiring dengan berjalannya waktu definisi Melayu berdasarkan ras ini mulai ditinggalkan.

Definisi Melayu menjadi berdasarkan budaya dan adat, dimana orang Melayu adalah orang yang mempunyai etika, tingkah laku dan adat Melayu. Pada waktu Islam mulai dianut didaerah Sumatera dan Semenanjung Malaka, keyakinan dan ketaatan terhadap agama islam menjadi salah satu ciri khas dari orang Melayu. Pada abad ke-18, William Marsden menyebutkan bahwa dalam percakapan sehari-hari, penyebutan bangsa Melayu adalah sama dengan sebutan bangsa Moor di India dalam artian ketaatannya terhadap agama Islam.

Kesimpulan
Secara kesimpulannya asal usul bangsa melayu ada tiga kumpulan iaitu orang Negrito,Melayu Proto dan Melayu Deutro, manakala terdapat dua teori iaitu Bangsa Melayu Berasal daripada Yunnan (Teori Yunnan) dan Bangsa Melayu Berasal daripada Nusantara (Teori Nusantara)

Untuk mengetahui asal usul Bahasa Melayu kita perlu mengetahui asal-usul penutur aslinya terlebih dahulu, iaitu orang Melayu. Asal-usul bangsa Melayu sehingga kini masih kabur. Akan tetapi beberapa sarjana Eropah seperti Hendrik Kern (Belanda) dan Robert von Heine Geldern (Austria) telah melakukan penyelidikan secara kasar latar belakang dan pergerakan masyarakat Melayu kuno.
Teori mereka menyatakan bahawa bangsa Melayu berasal daripada kelompok Austronesia, iaitu kelompok manusia yang berasal dari daerah Yunan di China yang kemudiannya berhijrah dalam bentuk beberapa gelombang pergerakan manusia dan akhirnya menduduki wilayah Asia Tenggara.
Gelombang pertama dikenali sebagai Melayu-Proto dan berlaku kira-kira 2500 tahun Sebelum Masehi
Kira-kira dalam tahun 1500 tahun Sebelum Masehi, datang pula gelombang kedua yang dikenali sebagai Melayu-Deutro. Mereka mendiami daerah-daerah yang subur di pinggir pantai dan tanah lembah Asia Tenggara. Kehadiran mereka ini menyebabkan orang-orang Melayu-Proto seperti orang-orang Jakun, Mahmeri, Jahut, Temuan, Biduanda dan beberapa kelompok kecil yang lain berpindah ke kawasan pedalaman. Justeru itu, Melayu-Deutro ini merupakan masyarakat Melayu yang ada pada masa kini.
Bahasa Melayu berasal daripada rumpun bahasa Austronesia, manakala bahasa-bahasa Austronesia ini berasal daripada keluarga bahasa Austris. Selain daripada rumpun bahasa Austronesia, rumpun bahasa Austro-Asia dan rumpun bahasa Tibet-Cina.
Rumpun bahasa Austronesia ini pula terbahagi kepada empat kelompok yang lebih kecil :
1. Bahasa-bahasa Kepulauan Melayu atau Bahasa Nusantara.
Contoh : bahasa Melayu, Aceh, Jawa, Sunda, Dayak, Tagalog, Solo, Roto, Sika dan lain-lain.
2. Bahasa-bahasa Polinesia
Contoh : bahasa Hawaii, Tonga, Maori, Haiti
3. Bahasa-bahasa Melanesia
Contoh : bahasa-bahasa di Kepulauan Fiji, Irian and Kepulaun Caledonia
4. Bahasa-bahasa Mikronesia
Contoh : bahasa-bahasa di Kepulauan Marianna, Marshall, Carolina dan Gilbert.
Bahasa Melayu tergolong dalam cabang Bahasa-bahasa Nusantara yang mempunyai bahasa yang paling banyak, iaitu kira-kira 200 hingga 300 bahasa.
Bentuk Bahasa Melayu yang dituturkan di Kepulauan Melayu pada zaman dahulu dikenali sebagai Bahasa Melayu Kuno dan jauh berbeza dengan Bahasa Melayu yang moden. Bentuk Bahasa Melayu Kuno hanya dapat dilihat melalui kesan tinggalan sejarah seperti batu-batu bersurat. Batu-batu bersurat yang menggunakan Bahasa Melayu dipercayai ditulis bermula pada akhir abad ke-7. Sebanyak empat batu bersurat telah dijumpai yang mempunyai tarikh tersebut :
batu bersurat talang tuwo-684M_Palembang
2. Batu Bersurat Talang Tuwo (684 M) – Palembang
3. Batu Bersurat Kota Kapor (686 M) – Pulau Bangka, Palembang
4. Batu
Bersurat Karang Brahi (686 M) – Palembang
Berpandukan isinya, penulisan di batu bersurat tersebut dibuat atas arahan raja Srivijaya, sebuah kerajaan yang mempunyai empayar meliputi Sumatera, Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, Segenting Kra dan Sri Lanka. Oleh itu, ini menunjukkan bahawa Bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa rasmi dan bahasa pentadbiran kerajaan Srivijaya, sekaligus meluaskan penyebaran Bahasa Melayu ke tanah jajahan takluknya . Walaupun bahasa pada batu bersurat itu masih berbahasa Sanskrit, akan tetapi masih terdapat pengaruh Bahasa Melayu Kuno di dalamnya.
Istilah “Melayu” timbul buat pertama kali dalam tulisan Cina pada tahun 644 dan 645 Masehi. Tulisan ini menyebut mengenai orang “Mo-Lo-Yue” yang mengirimkan utusan ke Negeri China untuk mempersembahkan hasil-hasil bumi keada Raja China. Letaknya kerajaan “Mo-Lo-Yue” ini tidak dapat dipastikan dengan tegas. Ada yang mencatatkan di Semenanjung Tanah Melayu dan di Jambi, Sumatera.
Selain daripada empat batu bersurat yang disebutkan tadi, terdapat juga bahan-bahan lain yang dihasilkan dalam zaman kerajaan Srivijaya pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. :
1. Batu Bersurat Gandasuli (832 M) – Gandasuli, Jawa Tengah
2. Sebuah batu bersurat yang dijumpai di Bangkahulu bertarikh 1000 Masehi.
3. Sebuah patung gangsa yang dijumpai di
Padang Lawas, Tapanuli bertarikh 1029 M dengan tulisan pada kaki alasnya
4. Sebuah patung di Padang Rocore, Batanghari bertarikh 1286 M dengan catatan perkataan “Malaya” atau “Melayu” pada bahagian belakangnya.
Bahasa Melayu (Abad ke-13 hingga 18 Masehi)
Pada zaman ini tiga buah batu bersurat yang menunjukkan perkembangan Bahasa Melayu telah dijumpai :
1. Batu Bersurat Pagar Ruyong, Minangkabau (1356 M) – ditulis dalam tulisan India dan memperlihatkan pengaruh Bahasa Sanskrit.
2. Batu Nisan di Minye Tujuh, Acheh (1380 M) – juga ditulis dalam tulisan India dengan beberapa perkataan Arab
batu nisan minye_ batu bersurat
3. Batu Bersurat Terengganu – dijumpai di Sungai Teresat, Kuala Berang Terengganu. Tarikh sebenar tidak dapat dipastikan, tetapi ia dipercayai ditulis antara tahun 1303 M hingga 1387 M. Ia ditulis dalam tulisan Jawi.
Abad ke -13 adalah waktu bermulanya zaman peralihan di Kepulauan Melayu dengan berkembangnya agama Islam ke rantau ini. Ini telah mempengaruhi bangsa dan bahasa di sini, terutamanya bangsa dan bahasa Melayu. Pengaruh India sedikit demi sedikit mula digantikan dengan pengaruh Islam dan Arab.
Zaman penting bagi Bahasa Melayu ialah pada zaman Kerajaan Melayu Melaka. Kerajaan Melayu Melaka yang telah menerima Islam dan berjaya membina empayar yang luas telah dapat meningkatkan kemajuan dan perkembangan Bahasa Melayu di rantau ini. Bahasa Melayu telah digunakan dalam pentadbiran dan aktiviti perdagangan serta menjadi “lingua franca” para pedagang. Bahasa Melayu juga telah menjadi alat penyebaran agama Islam ke seluruh Kepulauan Melayu. Bahasa Melayu telah mendapat bentuk tulisan baru iaitu tulisan Jawi. Perbendaharaan kata juga telah bertambah dengan wujudnya keperluan untuk mengungkapkan idea-idea yang dibawa oleh peradaban Islam. Keagungan Kesultanan Melaka jelas tergambar di dalam “Sejarah Melayu” oleh Tun Seri Lanang, sebuah karya dalam Bahasa Melayu yang sangat tinggi nilainya.
Kedatangan orang-orang Eropah dan kejatuhan Kesultanan Melaka ke tangan Portugis pada tahun1511 masehi tidak menamatkan pengaruh Bahasa Melayu. Ramai di antara mereka yang menjalankan penyelidikan dan menyimpan catatan mengenai bahasa dan kesusasteraan Melayu. Beberapa contoh usaha mereka ialah :
1. Pigafetta, seorang ketua kelasi berbangsa Itali dalam pelayarannya bersama Magellan, telah menyusun kamus Melayu-Itali semasa singgah di Pulau Tidore pada tahun 1521. Ia merupakan daftar kata daripada bahasa yang dituturkan oleh orang-orang di pelabuhan itu dengan lebih 400 patah perkataan dan adalah daftar kata Melayu-Eropah yang tertua. Kedudukan Pulau Tidore yang terletak jauh daripada tempat asal Bahasa Melayu menggambarkan betapa luasnya Bahasa Melayu tersebar.
2. Jan Hugen Van Linschotten, seorang bangsa Belanda pernah tinggal di Indonesia antara tahun 1586 hingga 1592 dan berkhidmat sebagai pegawai kepada pemerintah Portugis. Beliau ada mencatatkan dalam bukunya bahawa Bahasa Melayu dianggap sebagai bahasa yang paling dihormati antara bahasa-bahasa negeri timur.
3. Pada awal abad ke-18, Francios Valentijn, seorang pendeta dan ahli sejarah bangsa Belanda yang banyak menulis menganai wilayah Kepulauan Melayu, telah menggambarkan kepentingan Bahasa Melayu seperti berikut :
“Bahasa mereka, Bahasa Melayu, bukan sahaja dituturkan di daerah pinggir laut, tetapi juga digunakan di seluruh Kepulauan Melayu dan di segala negeri-negeri Timur, sebagai suatu bahasa yang difahami di mana-mana sahaja oleh setiap orang.”
Satu bukti tentang tingginya martabat Bahasa Melayu dan luas penggunaanya di wilayah ini adalah pada surat-menyurat antara pentadbir dan raja-rja di Kepulauan Melayu. Antaranya ialah :
1. Surat Sultan Acheh kepada Kapitan Inggeris, James Lancester (1601)
2. Surat Sultan Alauddin Shah dari Acheh kepada Harry Middleton (1602)
3. Surat Sultan Acheh kepada raja Inggeris, King James (1612)
Ketiga-tiga surat ini tersimpan di perpustakaan Bodelein, London
Dalam abad ke-17, terdapat banyak usaha oleh sarjana-sarjana Eropah untuk menyusun kamus dan daftar kata, yang kemudiannya diteruskan kepada bidang morfologi, sintaksis dan fonologi.
Tokoh-tokoh tempatan juga tidak ketinggalan memberikan sumbangan. Kebanyakan usaha mereka berkisar tentang agama dan sastera. Palembang dan Acheh telah menggantikan telah menggantikan Melaka sebagai pust keintelektualan Melayu. Antara tokoh-tokoh di Acheh ialah :
1. Sheikh Nuruddin Al-Raniri (”Bustanul Salatin”)
2. Shamsuddin Al-Sumaterani (”Mirat Al-Mukmin”)
3. Abdul Rauf Singkel (”Mirat Al-Tullab”)
4. Hamzah Fansuri (”Syair Perahu”)
Di Palembang pula terdapat Abdul Samad Al-Falambani dengan kitab “Hikayat Al-Salakin”.
Selain daripada Acheh dan Palembang, beberapa tokoh juga timbul di tempat-tempat lain. Di Brunei, Pengiran Syahbandar Muhammad Salleh (Pengiran Indera Muda) telah menghasilkan “Syair Rakis”, manakala di Banjarmasin pula terkenal dengan Arshad Al-Banjari dengan kitab “Sabil Al-Muhtadin”. Sheikh Mohd Ismail Daud Al-Fatani di Pattani pula menghasilkan “Matla’al Badrain” dan “Furu’ Al-Masail”.
Bahasa Melayu (Abad ke-19 dan 20 Masehi)
Kemuncak kegiatan alam persuratan Melayu melalui Bahasa Melayu dan tulisan Jawi adalah di Penyengat, sebuah pulau di Kepulauan Riau yang menjadi sebahagian daripada Kerajaan Johor-Riau. Di sinilah dari abad ke 19 hingga awal abad ke 20, tertumpunya kegiatan keintelektualan Melayu-Islam dan perkembangan Bahasa Melayu selanjutnya.
Banyak karya serta kitab diterbitkan di pulau ini, seperti kitab “Al-Hakim” oleh Tajuddin Abdul Fadzil Ahmad ibn Abdul Karim (1863 M) dan “Sabil Al-Hidayat” oleh Sayyed Aluwi Ba’aluwi (1899 M)
Tetapi hasil penulisan yang terkenal dan terpenting dalam dunia persuratan Melayu ialah karya Raja Ali Haji, iaitu “Bustan Al-Katibin” (1857 M), “Pengetahuan Bahasa” (1859 M), “Salasilah Melayu dan Bugis” (1865 M) dan “Tuhfat Al-Nafis” (1865 M). Pada masa itu juga di Johor terdapat beberapa hasil penulisan seperti “Hikayat Negeri Johor” dan “Kitab Pemimpin Johor”.
Kerajaan Melayu Johor-Riau terus menjadi pusat pengembangan Bahasa Melayu sehingga ia menjadi bahasa persatuan di seluruh Nusantara.
Sebelum Inggeris bertapak di Semenanjung Tanah Melayu, Bahasa Melayu menjadi satu-satunya bahasa perantaraan bagi penduduk negara ini. Ia digunakan sebagai bahasa pentadbiran di semua pusat pemerintahan dan menjadi bahasa pengantar di institusi pendidikan yang ada pada ketika itu seperti pusat pengajian Islam dan kelas agama. Perhubungan antara rakyat juga menggunakan Bahasa Melayu, termasuk di pusat-pusat perniagaan seperti Melaka, Pulau Pinang dan Singapura yang sebahagian besar penduduknya terdiri daripada orang Melayu (begitu juga hari ini).
Pada zaman penjajahan Inggeris di Tanah Melayu, khususnya ketika sebelum berlaku Perang Dunia Kedua, Bahasa Melayu terus digunakan untuk tujuan urusan rasmi di Negeri-Negeri Melayu Bersekutu dan Negeri-Negeri Melayu Tidak Bersekutu. Pegawai-pegawai Inggeris yang bertugas di Negeri-Negeri Melayu sebelum Perang Dunia Kedua dikehendaki mempelajari Bahasa Melayu dan mesti lulus dalam peperiksaan Bahasa Melayu sebelum disahkan dalam jawatan.
Sebahagian daripada pegawai-pegawai itu terus menaruh minat yang tinggi terhadap Bahasa Melayu, sehingga dikenali sebagai sarjana Bahasa Melayu. Antaranya ialah R.O. Winstedt, J.R. Wilkinson, C.C. Brown, W.E. Maxwell, W. Marsden, W.G. Shellabear dan J. Crawford.
Hanya selepas Perang Dunia Kedua kedudukan serta peranan Bahasa Melayu mula terancam. Pegawai-pegawai Inggeris baru yang jahil terhadap Bahasa Melayu membawa tekanan kepada kehidupan rakyat di negara ini, menerusi nilai-nilai baru yang diperkenalkan. Orang-orang Inggeris menjadi “tuan” dan segala yang bersangkutan dengan cara hidup mereka diberi nilaian yang tinggi termasuk bahasa mereka.
Ini diperkukuhkan dengan dasar menggunakan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantar dalam sistem persekolahan. Dalam keadaan Bahasa Melayu menerima tekanan, kesusasteraan Melayu terus dihasilkan, bukan oleh cendiakawan berpendidikan barat tetapi cerdik pandai lulusan sekolah Melayu atau Arab.
Kemerosotan Bahasa Melayu tidak berterusan. Pada awal abad ke-20, semangat kebangsaan bergema dan orang-orang Melayu mula mengorak langkah untuk memperjuangkan bahasa ibunda mereka. Wartawan, sasterawan, budayawan, guru-guru Melayu dan ahli-ahli politik berganding bahu memperjuangkan cita-cita ini. Akhbar dan majalah menjadi saluran utama untuk menyuarakan hasrat ini. Perjuangan Bahasa Melayu digerakkan serentak dengan perjuangan politik membebaskan tanah air daripada penjajahan.
Akhirnya kejayaan tercapai dengan termaktubnya Artikel 152 dalam Perlembagaan Persekutuan Tanah Melayu, yang menyebut bahawa “Bahasa Kebangsaan negara ini adalah Bahasa Melayu dan hendaklah ditulis dalam apa-apa tulisan sebagaimana yang diperuntukan dengan undang-undang Parlimen”. Dengan perakuan ini, maka bermulalah era baru bagi Bahasa Melayu, satu bahasa yang pernah menjadi lingua franca bagi seluruh Kepulauan Melayu.
Petikan dari;
http://faculty.unitarklj1.edu.my/
88888888888888888888888888888888888888888888888888888888888
Melayu Dari Wikipedia
Melayu merujuk kepada mereka yang bertutur bahasa Melayu dan mengamalkan adat resam orang Melayu. Perkataan Melayu mungkin berasal daripada nama sebuah anak sungai yang bernama Sungai Melayu di hulu Sungai Batang Hari, Sumatera. Di sana letaknya “Kerajaan Melayu” sekitar 1500 tahun dahulu sebelum atau semasa adanya Kerajaan Srivijaya. Sehubungan itu, dari segi etimologi, perkataan “Melayu” itu dikatakan berasal daripada perkataan Sanskrit “Malaya” yang bermaksud “bukit” ataupun tanah tinggi. [9] Ada juga sumber sejarah yang mengatakan bahawa perkataan “Melayu” berasal dari “Sungai Melayu” di Jambi.

Etimologi

Istilah “Melayu” ditakrifkan oleh UNESCO pada tahun 1972 sebagai suku bangsa Melayu di Semenanjung Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Madagaskar. Bagaimanapun menurut Perlembagaan Malaysia, istilah “Melayu” hanya merujuk kepada seseorang yang berketurunan Melayu yang menganut agama Islam. Dengan kata yang lain, bukan semua orang yang berketurunan daripada nenek moyang Melayu adalah orang Melayu.
Istilah “Melayu” untuk merujuk kepada nama bangsa atau bahasa adalah suatu perkembangan yang agak baru dari segi sejarah, iaitu setelah adanya Kesultanan Melayu Melaka.[11] Walaupun demikian, tidaklah sehingga abad ke-17 bahawa istilah “Melayu” yang merujuk kepada bangsa semakin digunakan secara meluas. Sebelum itu, istilah “Melayu” hanya merujuk kepada keturunan raja Melayu dari Sumatera sahaja.[11]
Penggunaan istilah “Melayu” muncul buat pertama pada kira-kira 100-150 Masihi dalam karya Ptolemy, Geographike Sintaxis, yang menggunakan istilah “maleu-kolon”. G. E. Gerini menganggap istilah itu berasal daripada perkataan Sanskrit, iaitu malayakom atau malaikurram, yang merujuk kepada Tanjung Kuantan di Semenanjung Malaysia. Sebaliknya, Roland Bradell menganggap tempat itu merujuk kepada Tanjung Penyabung.
Istilah Malaya dvipa muncul dalam kitab Purana, sebuah kitab Hindu purba, yang ditulis sebelum zaman Gautama Buddha sehingga 500 Masihi. Dvipa bermaksud “tanah yang dikelilingi air” dan berdasarkan maklumat-maklumat yang lain dalam kitab itu, para pengkaji beranggapan bahawa Malaya dvipa ialah Pulau Sumatera.
Istilah “Mo-lo-yu” juga dicatat dalam buku catatan perjalanan pengembara Cina pada sekitar tahun 644-645 Masihi semasa zaman Dinasti Tang. Para pengkaji bersependapat bahawa perkataan “Mo-lo-yo” yang dimaksudkan itu ialah kerajaan yang terletak di Jambi di Pulau Sumatera, serta juga Sriwijaya yang terletak di daerah Palembang.[11]

[sunting] Masalah dalam penakrifan orang Melayu

Penakrifan orang Melayu merupakan satu pekerjaan yang sukar. Sekiranya menurut penakrifan orang Melayu sebagai orang yang bertutur dalam Bahasa Melayu, penakrifan ini merangkumi kebanyakan orang di Malaysia, Indonesia, dan sebahagian dari negeri Thai dan Filipina. Tetapi, apa yang menjadi masalahnya, di Indonesia, orang Melayu hanya merupakan salah satu daripada beratus-ratus kaum/suku di negara itu. Lebih-lebih lagi, warga Indonesia lebih suka mengenali diri mereka sebagai orang Indonesia dan mengenali bahasa mereka sebagai bahasa Indonesia. Walaupun demikian, secara amnya terdapat dua jenis penakrifan untuk menentukan sama ada seseorang itu orang Melayu. Iaitu:
  • Penakrifan undang-undang
  • Penakrifan antropologi

[sunting] Penakrifan undang-undang

Di negara Malaysia, orang Melayu didefinisikan menurut perlembagaan dalam pekara 160(2). Menurut perkara ini, orang Melayu ditakrifkan sebagai [12]:
  1. Seorang yang beragama Islam
  2. Bertutur bahasa Melayu
  3. Mengamalkan adat istiadat Melayu
  4. Lahir sebelum hari merdeka sama ada di Persekutuan Tanah Melayu (Malaya) atau di Singapura atau pada hari merdeka, dia bermastautin di Persekutuan atau di Singapura.
Takrifan undang-undang ini adalah ditetapkan demi keperluan politik di negara Malaysia. Maka dengan itu, ia adalah tidak menepati hakikat di mana sebenarnya terdapat juga orang Melayu yang bermastautin di luar Persekutuan Malaysia. Contohnya di selatan Thailand terdapat juga kelompok manusia yang bertutur dalam Bahasa Melayu dan mengamalkan budaya orang Melayu.

[sunting] Penakrifan antropologi

Menurut Syed Husin Ali yang merupakan ahli antropologi di negara Malaysia, orang Melayu itu dari segi zahirnya, lazimnya berkulit sawo matang, berbadan sederhana besar serta tegap dan selalu berlemah lembut serta berbudi bahasa. [13] Dari segi etnologi, Melayu bermakna kelompok masyarakat yang mengamalkan sistem kemasyarakatan dwisisi dan kegenerasian yang termasuk dalam bangsa Mongoloid.[14]

[sunting] Asal usul bangsa Melayu

Asal usul bangsa Melayu merupakan sesuatu yang sukar ditentukan. Walaupun terdapat beberapa kajian dilakukan untuk menjelaskan perkara ini, tetapi kata sepakat antara para sarjana belum dicapai. Secara amnya terdapat 2 teori mengenai asal-usul bangsa Melayu iaitu:
Selain itu ada juga pendapat yang mengusulkan bahawa orang Minangkabau itu berasal daripada pengikut Nabi Nuh, iaitu bangsa Ark yang mendarat di muara Sungai Jambi dan Palembang, semasa banjir besar berlaku di bumi. Tetapi pendapat ini masih belum mendapat bukti yang kukuh.
Teori ini disokong oleh beberapa sarjana seperti R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen, Slametmuljana dan juga Asmah Haji Omar. Secara keseluruhannya, alasan-alasan yang menyokong teori ini adalah seperti berikut:
  1. Kapak Tua yang mirip kepada Kapak Tua di Asia Tengah ditemui di Kepulauan Melayu. Perkara ini menunjukkan adanya migrasi penduduk dari Asia Tengah ke Kepulauan Melayu.
  2. Adat resam bangsa Melayu mirip kepada suku Naga di daerah Assam (berhampiran dengan sempadan India dengan Myanmar).
  3. Bahasa Melayu adalah serumpun dengan bahasa di Kemboja. Dengan lebih lanjut lagi, penduduk di Kemboja mungkin berasal dari dataran Yunnan dengan menyusuri Sungai Mekong. Perhubungan bangsa Melayu dengan bangsa Kemboja sekaligus menandakan pertaliannya dengan dataran Yunan.
Teori ini merupakan teori yang popular yakni diterima umum. Contohnya, dalam buku Teks Pengajian Malaysia,[15] adapun menyatakan “nenek moyang” orang Melayu itu berasal dari Yunan.
Berdasarkan teori ini, dikatakan orang Melayu datang dari Yunnan ke Kepulauan Melayu menerusi tiga gelombang yang utama, yang ditandai dengan perpindahan Orang Negrito, Melayu Proto, dan juga Melayu Deutro. Berikut adalah huraiannya.

[sunting] Orang Negrito

Orang Negrito merupakan penduduk paling awal di Kepulauan Melayu. Mereka diperkirakan ada di sini sejak 1000 SM berdasarkan penerokaan arkeologi di Gua Cha, Kelantan. Daripada orang Negrito telah diperturunkan orang Semang yang mempunyai ciri-ciri fizikal berkulit gelap, berambut keriting, bermata bundar, berhidung lebar, berbibir penuh, serta saiz badan yang pendek.

[sunting] Melayu Proto

Perpindahan orang Melayu Proto ke Kepulauan Melayu diperkirakan berlaku pada 2,500 SM. Mereka mempunyai peradaban yang lebih maju daripada orang Negrito, ditandai dengan kemahiran bercucuk tanam. Terdapat satu lagi persamaan antara Melayu Proto dimana dikenali sebagai Melayu Negosiddek dimana kebanyakan terdapat disebuah pulau yang dikenali sebagai Pinang. Melayu Negosiddek ini mahir dalam bidang lautan tetapi tidak pandai berenang.

[sunting] Melayu Deutro

Perpindahan orang Melayu Deutro merupakan gelombang perpindahan orang Melayu kuno yang kedua yang berlaku pada 1,500 SM. Mereka merupakan manusia yang hidup di pantai dan mempunyai kemahiran berlayar.

[sunting] Teori Nusantara

Teori ini didukung oleh sarjana-sarjana seperti J.Crawfurd, K.Himly, Sutan Takdir Alisjahbana dan juga Gorys Keraf. Teori ini adalah disokong dengan alasan-alasan seperti di bawah:
  1. Bangsa Melayu dan bangsa Jawa mempunyai tamadun yang tinggi pada abad ke-19. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah perkembangan budaya yang lama. Perkara ini menunjukkan orang Melayu tidak berasal dari mana-mana, tetapi berasal dan berkembang di Nusantara.
  2. K.Himly tidak bersetuju dengan pendapat yang mengatakan bahawa Bahasa Melayu serumpun dengan Bahasa Champa. Baginya, persamaan yang berlaku di kedua-dua bahasa adalah satu fenomena “ambilan”.
  3. Manusia kuno Homo Soloinensis dan Homo Wajakensis terdapat di Pulau Jawa. Penemuan manusia kuno ini di Pulau Jawa menunjukkan adanya kemungkinan orang Melayu itu keturunan daripada manusia kuno tersebut yakni berasal daripada Jawa dan mewujudkan tamadun bersendirian.
  4. Bahasa di Nusantara (Bahasa Austronesia) mempunyai perbezaan yang ketara dengan bahasa di Asia Tengah (Bahasa Indo-Eropah).
Teori ini merupakan teori yang kurang popular khususnya di negara Malaysia.

[sunting] Kekeluargaan orang Melayu

Sistem kekeluargaan Melayu mempunyai ciri-ciri yang agak fleksibel. Ciri-ciri ini terlihat dalam perkahwinan Melayu yang boleh berbentuk matrilokal atau patrilokal, monogami atau poligami. Lebih-lebih lagi, perkembangan keluarga mempunyai beberapa variasi. Dalam sistem ini, keluarga boleh bercerai dan bergabung sekiranya berlaku perceraian ibu bapa dan perkahwinan semula. Malah bukan semua keluarga akan mengalami perkembangan kepada keluarga luas yakni sebuah keluarga (yang mendiami sebuah rumah) mempunyai golongan 3 generasi. Kelahiran cucu mungkin membawa kepada perkembangan ini tetapi juga mungkin membawa kepada perpecahan keluarga dengan perginya ibu bapa yang baru demi mencari ruangan yang baru di luar rumah untuk keluarganya yang mengalami penambahan ahli. Di samping itu, faktor yang menyebabkan seorang anak mewarisi rumah ibu-bapa mereka juga tidak menentu dan ia mungkin disebabkan oleh desakan ekonomi dan alasan-alasan yang lain.

[sunting] Perkahwinan orang Melayu

Rencana utama: Adat resam kahwin Melayu
Orang Melayu amat beradat. Perkahwinan mereka secara umumnya terbahagi kepada lima peringkat istiadat: merisik, melamar, bertunang, bernikah dan bersanding.

[sunting] Melayu kacukan

Oleh kerana Nusantara Melayu adalah tempat perdagangan dan pernah dijajah oleh kuasa Eropah, banyak orang Melayu berkahwin campur dengan bangsa asing dan anak mereka dikenali sebagai Melayu Kacukan. Sesetengah mereka ada mempunyai kemiripan orang Melayu dan yang lain tidak ternyata dan susah hendak dikatakan. Di antara masyarakat Melayu Kacukan yang terkenal adalah Melayu Eropah, Melayu India dan Melayu Arab.

Manakala pautan ke Petikan di sediakan olih : hazaldin tbkl.


 


Diberdayakan oleh Blogger.